Bunda, apakah si kecil sering menangis ketika waktu makan tiba? Anak mungkin menutup mulut saat melihat makanan, terlihat gelisah ketika disuapi, atau langsung menolak ketika diminta mencoba menu yang belum dikenal.
Bagi sebagian keluarga, waktu makan yang seharusnya menjadi kegiatan sehari-hari justru berubah menjadi situasi penuh tekanan. Orang tua merasa khawatir karena anak sulit makan, sedangkan anak semakin menunjukkan penolakan ketika terus dibujuk atau diminta menghabiskan makanan.
Kecemasan saat makan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada anak yang takut mencoba makanan baru, khawatir akan tersedak, merasa tidak nyaman dengan tekstur tertentu, atau menunjukkan respons emosional setelah mengalami pengalaman makan yang kurang menyenangkan.
Namun, tidak semua anak yang menolak makan mengalami kecemasan, dan tidak semua kecemasan saat makan memiliki penyebab yang sama. Faktor kesehatan, pengalaman makan, sensitivitas sensorik, kemampuan mengunyah dan menelan, serta lingkungan keluarga perlu dipertimbangkan.
Bagi orang tua yang mencari informasi mengenai hipnoterapi anak Surabaya, penting untuk memahami terlebih dahulu kebutuhan si kecil. Hipnoterapi dapat didiskusikan sebagai pendekatan pendampingan tambahan untuk sasaran emosional tertentu, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis, evaluasi gizi, atau terapi makan yang dibutuhkan anak.
Apa yang Dimaksud dengan Kecemasan saat Makan pada Anak?
Kecemasan saat makan merupakan kondisi ketika anak menunjukkan rasa takut, khawatir, atau ketegangan dalam situasi yang berkaitan dengan makanan dan kegiatan makan.
Responsnya dapat berbeda pada setiap anak. Sebagian anak hanya terlihat ragu ketika disajikan makanan baru, sedangkan anak lainnya dapat menangis, menghindar, atau mengalami ketegangan yang kuat setiap kali waktu makan tiba.
Beberapa contoh perilaku yang dapat diamati antara lain:
- Anak menangis ketika melihat makanan tertentu.
- Anak menutup mulut atau memalingkan wajah saat disuapi.
- Anak takut mencoba makanan yang belum dikenal.
- Anak terlihat gelisah ketika diminta makan.
- Anak terus meminta makanan yang sama karena merasa lebih nyaman dengan menu tersebut.
- Anak menghindari situasi makan setelah pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan.
- Anak menunjukkan ketakutan berlebihan terhadap kemungkinan tersedak atau muntah.
Perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan gangguan kecemasan atau masalah psikologis tertentu. Orang tua perlu melihat frekuensi, intensitas, pemicu, serta dampaknya terhadap asupan dan aktivitas anak.
Mengapa Anak Bisa Mengalami Kecemasan saat Makan?
Memahami kemungkinan penyebab merupakan langkah awal sebelum menentukan bentuk pendampingan. Kecemasan saat makan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkadang saling berkaitan.
1. Pengalaman Makan yang Tidak Menyenangkan
Pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi cara anak merespons makanan.
Misalnya, anak pernah tersedak, muntah, merasa mual, atau mengalami nyeri ketika makan. Setelah kejadian tersebut, anak mungkin menjadi lebih berhati-hati atau takut menghadapi makanan yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut.
Namun, pengalaman tidak menyenangkan tidak selalu menjadi penyebab utama. Pemeriksaan kondisi fisik dan keterampilan makan tetap perlu dipertimbangkan.
2. Tekanan dan Paksaan saat Waktu Makan
Anak yang berulang kali dimarahi, diancam, atau dipaksa menghabiskan makanan dapat mengasosiasikan waktu makan dengan pengalaman yang menegangkan.
Ketika situasi serupa terjadi kembali, anak mungkin menunjukkan penolakan bahkan sebelum makanan mulai diberikan.
Orang tua sebaiknya menghindari ancaman, hukuman, atau paksaan. Suasana makan yang lebih tenang dapat membantu anak merasa lebih aman untuk menyampaikan ketidaknyamanannya.
3. Takut terhadap Tekstur, Rasa, atau Aroma Makanan
Sebagian anak memiliki sensitivitas terhadap karakteristik makanan tertentu.
Tekstur yang lengket, aroma yang kuat, makanan berserat, atau campuran beberapa bahan dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Anak mungkin merasa takut atau jijik ketika melihat dan mencium makanan tersebut.
Jika sensitivitas membuat pilihan makanan semakin terbatas, evaluasi oleh tenaga profesional yang sesuai dapat membantu memahami kebutuhan anak.
4. Takut Mengalami Tersedak atau Muntah
Anak yang pernah tersedak atau muntah ketika makan mungkin menjadi takut kejadian serupa terulang.
Ketakutan tersebut dapat membuat anak menghindari makanan tertentu, makan dalam jumlah lebih sedikit, atau menolak makan ketika berada dalam situasi yang mengingatkannya pada kejadian sebelumnya.
Jika anak sering tersedak, batuk saat makan, atau mengalami kesulitan menelan, pemeriksaan medis harus diprioritaskan. Jangan menganggap gejala tersebut semata-mata sebagai kecemasan.
5. Kondisi Fisik yang Membuat Makan Terasa Tidak Nyaman
Rasa sakit pada gigi, gangguan pencernaan, refluks, sembelit, atau kondisi kesehatan lainnya dapat membuat anak menghindari makanan.
Anak mungkin tidak mampu menjelaskan rasa sakit yang dialaminya. Penolakan makan menjadi salah satu cara yang terlihat ketika ia merasa tidak nyaman.
Karena itu, evaluasi kesehatan penting dilakukan sebelum menentukan bahwa masalah makan terutama berkaitan dengan faktor emosional.
6. Perubahan Lingkungan dan Rutinitas
Perubahan suasana rumah, jadwal sekolah, pengasuh, tempat makan, atau rutinitas keluarga dapat memengaruhi kenyamanan sebagian anak.
Anak yang membutuhkan rutinitas konsisten mungkin merasa lebih sulit beradaptasi ketika banyak hal berubah sekaligus.
Orang tua dapat membantu dengan mempertahankan rutinitas yang mudah diprediksi dan memberikan waktu bagi anak untuk menyesuaikan diri.
Bagaimana Mengenali Anak yang Cemas saat Makan?
Orang tua dapat mengamati respons anak sebelum, selama, dan setelah waktu makan.
Tanda yang Muncul Sebelum Makan
- Anak mulai gelisah ketika mendengar waktunya makan.
- Anak berusaha menghindari meja makan.
- Anak menangis ketika melihat makanan tertentu.
- Anak berulang kali meminta menu yang sama.
- Anak terlihat khawatir sebelum makanan disajikan.
Tanda yang Muncul Selama Makan
- Anak menutup mulut atau mendorong piring.
- Anak menangis ketika disuapi.
- Anak tampak tegang ketika diminta mencoba makanan baru.
- Anak terus bertanya atau memastikan bahwa makanan tertentu tidak akan diberikan.
- Anak menolak makan setelah melihat tekstur atau aroma tertentu.
Tanda yang Muncul Setelah Makan
- Anak terlihat lega setelah kegiatan makan selesai.
- Anak terus membicarakan pengalaman yang membuatnya takut.
- Anak semakin menghindari makanan atau situasi makan tertentu.
- Anak menunjukkan kekhawatiran ketika mengetahui menu makan berikutnya.
Tanda-tanda tersebut merupakan petunjuk untuk diamati, bukan alat diagnosis. Jika kecemasan mengganggu asupan, pertumbuhan, atau kehidupan sehari-hari, konsultasi profesional perlu dipertimbangkan.
Bagaimana Hipnoterapi Anak Dapat Dipertimbangkan untuk Kecemasan saat Makan?
Hipnoterapi merupakan pendekatan yang dapat melibatkan relaksasi, perhatian terarah, dan sugesti. Dalam konteks pendampingan anak, pendekatan ini mungkin didiskusikan apabila terdapat sasaran emosional yang sesuai, misalnya membantu anak menghadapi ketegangan atau rasa takut yang berkaitan dengan pengalaman tertentu.
Namun, kesesuaian hipnoterapi perlu dinilai secara individual. Anak yang takut makan karena kesulitan menelan, nyeri, atau masalah kesehatan membutuhkan evaluasi dan penanganan terhadap penyebab tersebut terlebih dahulu.
Bukti ilmiah mengenai efektivitas hipnoterapi secara khusus untuk mengatasi kecemasan makan pada anak masih terbatas. Karena itu, hipnoterapi tidak dapat dijanjikan sebagai solusi pasti dan tidak boleh menggantikan perawatan yang diperlukan.
Jika orang tua mempertimbangkan hipnoterapi anak di Surabaya, beberapa hal berikut perlu ditanyakan:
- Apa tujuan pendampingan yang ingin dicapai?
- Bagaimana praktisi menilai kesesuaian pendekatan dengan usia dan kondisi anak?
- Apa metode yang digunakan selama proses pendampingan?
- Bagaimana kenyamanan dan kesediaan anak dijaga?
- Apakah orang tua dilibatkan dalam proses?
- Bagaimana praktisi menentukan kapan anak membutuhkan rujukan kepada tenaga kesehatan lain?
Pendampingan yang bertanggung jawab tidak memaksa anak mengikuti proses yang membuatnya takut. Kebutuhan, keselamatan, dan kenyamanan anak harus menjadi prioritas.
Tahapan Pendampingan Kecemasan saat Makan yang Perlu Dipahami Orang Tua
Setiap layanan memiliki prosedur dan metode yang berbeda. Namun, pendampingan yang berorientasi pada kebutuhan anak sebaiknya memperhatikan beberapa aspek berikut.
1. Memahami Keluhan dan Riwayat Makan Anak
Orang tua dapat menjelaskan kapan kecemasan mulai terlihat, makanan apa yang dihindari, pengalaman yang pernah terjadi, serta situasi yang membuat anak merasa tidak nyaman.
Informasi ini membantu memahami pola masalah dan menentukan apakah anak memerlukan evaluasi medis atau bantuan profesional lainnya.
2. Mengenali Pemicu Ketakutan
Pemicu kecemasan dapat berbeda pada setiap anak.
Ada anak yang takut melihat makanan tertentu, ada yang merasa tidak nyaman ketika disuapi, dan ada pula yang menghindari makanan karena khawatir akan tersedak.
Mengenali pemicu membantu orang tua memahami situasi yang perlu diperhatikan tanpa langsung memaksa anak menghadapi hal yang ditakutinya.
3. Membangun Komunikasi yang Aman
Anak perlu mendapat kesempatan untuk menyampaikan perasaan tanpa takut dimarahi atau disalahkan.
Orang tua dapat menggunakan kalimat sederhana seperti:
“Bunda lihat kamu belum nyaman dengan makanan ini. Boleh cerita apa yang membuatmu takut?”
Komunikasi yang mendukung membantu anak merasa didengar dan dapat menjadi bagian dari lingkungan makan yang lebih positif.
4. Menentukan Pendekatan sesuai Kebutuhan Anak
Tidak semua anak membutuhkan metode yang sama. Jika faktor emosional berperan, dukungan psikologis dapat dipertimbangkan sesuai hasil evaluasi.
Jika terdapat kesulitan mengunyah atau menelan, anak mungkin membutuhkan penanganan dari tenaga profesional dengan kompetensi khusus dalam masalah makan dan menelan.
Rencana pendampingan perlu disesuaikan dengan penyebab, usia, kesiapan, dan kondisi kesehatan anak.
5. Melibatkan Orang Tua dalam Perubahan Rutinitas
Sebagian besar pengalaman makan anak berlangsung di rumah. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang konsisten dan tidak menekan.
Pendampingan dapat membantu keluarga memahami cara merespons penolakan, menjaga jadwal makan, dan memberikan dukungan tanpa paksaan.
6. Memantau Perkembangan secara Berkala
Perkembangan tidak selalu terlihat dari bertambahnya jumlah makanan yang dimakan.
Perhatikan pula apakah anak mulai merasa lebih nyaman, mampu menyampaikan ketidaknyamanan, atau menunjukkan berkurangnya ketegangan saat makan.
Jika kondisi tidak membaik atau justru semakin membatasi asupan, pendekatan perlu dievaluasi kembali dan rujukan dapat dipertimbangkan.
Peran Orang Tua dalam Membantu Anak Menghadapi Kecemasan saat Makan
Pendampingan tidak hanya berlangsung ketika anak bertemu praktisi. Lingkungan keluarga dan respons orang tua juga berperan dalam pengalaman makan sehari-hari.
1. Hindari Memaksa Anak Makan
Memaksa anak membuka mulut atau menghabiskan makanan dapat meningkatkan tekanan. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan rasa tidak nyaman.
Orang tua tetap dapat menyediakan makanan yang sesuai kebutuhan, tetapi sebaiknya tidak menggunakan ancaman atau hukuman.
2. Bangun Rutinitas Makan yang Konsisten
Jadwal makan utama dan camilan yang teratur membantu anak memahami kegiatan sehari-hari.
Usahakan suasana makan tenang dan kurangi distraksi yang mengganggu. Rutinitas perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan nutrisi, dan kondisi kesehatan anak.
3. Pertahankan Makanan yang Masih Diterima
Jika anak memiliki pilihan makanan terbatas, jangan langsung menghilangkan seluruh makanan yang masih dapat dikonsumsinya.
Pertahankan makanan yang aman dan sesuai usia sambil mencari cara memperluas variasi secara bertahap. Jika asupan sangat terbatas, konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi.
4. Berikan Kesempatan Mengenal Makanan Baru
Jika anak siap dan tidak memiliki masalah mengunyah atau menelan, orang tua dapat menawarkan makanan baru dalam jumlah kecil bersama makanan yang sudah dikenal.
Anak tidak harus langsung mencicipi atau menghabiskan makanan tersebut. Kesempatan untuk melihat dan mengenalnya tanpa tekanan dapat menjadi bagian dari proses adaptasi.
5. Hargai Perasaan Anak
Hindari menyebut anak manja, nakal, atau sengaja membuat orang tua kesal.
Respons seperti, “Bunda tahu kamu belum nyaman. Kita cari tahu pelan-pelan,” dapat membantu anak merasa didukung.
Menghargai perasaan anak bukan berarti mengabaikan kebutuhan gizinya. Orang tua tetap perlu memastikan asupan dan pertumbuhan anak dipantau.
Kapan Anak yang Cemas saat Makan Perlu Bantuan Profesional?
Tidak semua penolakan makan memerlukan terapi. Namun, orang tua sebaiknya berkonsultasi jika kecemasan berlangsung terus-menerus, pilihan makanan semakin terbatas, atau waktu makan menimbulkan tekanan yang berat.
Pertimbangkan evaluasi apabila anak:
- Menolak hampir semua makanan selain beberapa pilihan tertentu.
- Menangis atau menunjukkan ketakutan yang kuat setiap kali makan.
- Mengalami penurunan berat badan atau pertumbuhan yang tidak sesuai harapan.
- Mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah yang sangat terbatas.
- Sering muntah atau mengeluh sakit ketika makan.
- Mengalami kesulitan mengunyah atau menelan.
- Batuk atau tersedak berulang ketika makan dan minum.
- Menghindari aktivitas sosial karena takut menghadapi makanan.
Dokter anak dapat mengevaluasi kondisi kesehatan dan pertumbuhan. Berdasarkan kebutuhan, anak mungkin memerlukan bantuan ahli gizi, psikolog anak, terapis okupasi, atau terapis wicara yang memiliki kompetensi khusus dalam makan dan menelan.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas atau tersedak berat, segera cari pertolongan darurat. Kesulitan menelan cairan, tanda dehidrasi, atau kondisi yang memburuk dengan cepat juga memerlukan perhatian medis segera.
Mengapa Memilih Pendampingan Anak di Surabaya Perlu Dilakukan dengan Bijak?
Orang tua yang mencari layanan hipnoterapi anak Surabaya sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan lokasi atau promosi layanan. Kesesuaian metode dengan kebutuhan anak jauh lebih penting.
Sebelum memilih pendampingan, pertimbangkan beberapa hal berikut:
Pastikan Tujuan Pendampingan Dijelaskan
Praktisi perlu menjelaskan tujuan, metode, dan batas layanan secara terbuka. Hindari layanan yang menjanjikan anak pasti langsung mau makan atau sembuh dalam jumlah sesi tertentu.
Perhatikan Kompetensi Praktisi
Tanyakan latar belakang pendidikan, pelatihan, pengalaman, dan ruang lingkup kompetensi praktisi. Pastikan kebutuhan anak tidak ditangani di luar kemampuan layanan.
Utamakan Kenyamanan dan Kesediaan Anak
Anak tidak boleh dipaksa mengikuti kegiatan yang membuatnya merasa tidak aman. Pendekatan perlu disesuaikan dengan usia, perkembangan, dan kesiapan anak.
Pastikan Ada Kesediaan untuk Merujuk
Jika ditemukan masalah medis, gangguan menelan, kekurangan gizi, atau kebutuhan psikologis yang memerlukan penanganan khusus, layanan sebaiknya menyarankan konsultasi kepada tenaga profesional yang sesuai.
Pendampingan Kecemasan saat Makan bersama Rumah Hebat Surabaya
Menghadapi anak yang cemas setiap kali waktu makan tiba tentu dapat membuat Bunda merasa lelah dan khawatir. Terlebih ketika si kecil menangis, menolak makanan, atau semakin sulit menerima menu yang disajikan.
Namun, penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa anak hanya perlu dibujuk lebih keras. Kecemasan saat makan dapat berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, kondisi fisik, sensitivitas terhadap makanan, atau faktor lain yang perlu dipahami.
Rumah Hebat menyediakan layanan hipnoterapi yang dapat ditanyakan lebih lanjut kesesuaiannya dengan kebutuhan anak dan keluarga. Jika terdapat sasaran emosional yang relevan, orang tua dapat mendiskusikan pilihan pendampingan serta proses yang tersedia secara terbuka.
Sebelum memilih hipnoterapi, pastikan kondisi kesehatan, kecukupan nutrisi, serta kemampuan mengunyah dan menelan anak telah diperhatikan. Jika terdapat gejala fisik, gangguan pertumbuhan, atau kesulitan makan yang membutuhkan penanganan khusus, pemeriksaan tenaga kesehatan harus diprioritaskan.
Bagi keluarga di Surabaya, memahami kebutuhan anak merupakan langkah awal untuk memilih pendampingan yang aman, realistis, dan sesuai.
Kesimpulan: Bantu Anak Menghadapi Waktu Makan tanpa Tekanan
Kecemasan saat makan dapat membuat anak menghindari makanan, menangis ketika disuapi, atau merasa takut menghadapi situasi tertentu. Namun, penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan faktor emosional.
Orang tua perlu memperhatikan pengalaman makan, kondisi kesehatan, sensitivitas terhadap tekstur, keterampilan mengunyah dan menelan, serta lingkungan keluarga.
Hipnoterapi dapat didiskusikan sebagai pendekatan tambahan untuk sasaran emosional tertentu, tetapi bukti khusus untuk kecemasan makan pada anak masih terbatas. Pendekatan ini tidak menggantikan pemeriksaan medis, evaluasi gizi, atau terapi makan yang dibutuhkan.
Jika waktu makan selalu menjadi sumber kecemasan bagi si kecil, jangan hanya berfokus pada bagaimana membuatnya mau makan. Pahami apa yang membuatnya takut dan pilih bantuan berdasarkan kebutuhan sebenarnya.
FAQ Seputar Hipnoterapi Anak Surabaya untuk Kecemasan saat Makan
1. Mengapa anak bisa merasa cemas saat makan?
Kecemasan dapat berkaitan dengan pengalaman makan yang tidak menyenangkan, tekanan saat disuapi, ketakutan terhadap tekstur, atau kekhawatiran akan tersedak. Faktor fisik dan keterampilan makan juga perlu diperiksa sebelum menentukan penyebabnya.
2. Apa tanda anak mengalami kecemasan saat makan?
Anak mungkin menangis ketika melihat makanan, menghindari meja makan, menutup mulut, terlihat gelisah, atau sangat takut mencoba makanan baru. Tanda tersebut perlu dipahami berdasarkan frekuensi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan anak.
3. Apakah anak yang menangis saat disuapi pasti mengalami kecemasan?
Tidak. Tangisan dapat muncul karena lapar, kenyang, kelelahan, rasa sakit, ketidaknyamanan sensorik, atau faktor lainnya. Jika terjadi berulang, orang tua perlu mengamati pemicu dan mempertimbangkan evaluasi profesional.
4. Apakah hipnoterapi bisa membantu anak yang takut makan?
Hipnoterapi dapat didiskusikan sebagai pendekatan tambahan apabila terdapat sasaran emosional yang sesuai. Namun, bukti khusus untuk mengatasi kecemasan makan pada anak masih terbatas dan hasilnya tidak dapat dijamin.
5. Apakah hipnoterapi dapat menggantikan pemeriksaan dokter?
Tidak. Hipnoterapi tidak menggantikan pemeriksaan medis, evaluasi gizi, atau terapi makan dan menelan. Jika anak mengalami nyeri, muntah berulang, kesulitan menelan, atau pertumbuhan terganggu, pemeriksaan kesehatan perlu diprioritaskan.
6. Bagaimana cara mendampingi anak yang takut mencoba makanan baru?
Hindari paksaan, sediakan makanan yang sudah dikenal, dan tawarkan makanan baru secara bertahap jika sesuai dengan kemampuan anak. Biarkan anak mengenal makanan tanpa harus langsung mencicipinya.
7. Kapan anak yang cemas saat makan perlu dibawa ke profesional?
Pertimbangkan konsultasi jika kecemasan berlangsung terus-menerus, pilihan makanan semakin terbatas, waktu makan selalu menimbulkan konflik berat, atau asupan dan pertumbuhan terganggu. Batuk, tersedak, dan kesulitan menelan membutuhkan evaluasi medis.
8. Apakah orang tua perlu ikut dalam proses pendampingan?
Keterlibatan orang tua dapat membantu memahami kebiasaan makan anak dan menerapkan dukungan yang konsisten di rumah. Bentuk keterlibatan bergantung pada metode serta kebutuhan individual anak.
9. Di mana mencari layanan hipnoterapi anak di Surabaya?
Orang tua dapat menghubungi Rumah Hebat untuk memperoleh informasi mengenai layanan hipnoterapi anak dan mendiskusikan kesesuaiannya dengan kebutuhan keluarga. Jika terdapat tanda masalah kesehatan atau kesulitan makan khusus, pemeriksaan tenaga kesehatan tetap menjadi prioritas.
Konsultasikan Kebutuhan Si Kecil bersama Rumah Hebat Surabaya
Bunda, jika si kecil selalu menangis ketika waktu makan tiba, takut mencoba makanan baru, atau terlihat sangat gelisah ketika disuapi, jangan terus menghadapi situasi ini dengan paksaan dan pertengkaran.
Setiap anak memiliki alasan dan kebutuhan yang berbeda. Kenali penyebab kecemasannya, perhatikan kondisi kesehatannya, dan pilih pendampingan yang sesuai.
Rumah Hebat mengajak Bunda mencari informasi mengenai layanan hipnoterapi anak di Surabaya dan mendiskusikan apakah pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan si kecil. Ceritakan tantangan yang dihadapi, tanyakan proses serta batas layanan, dan pastikan kenyamanan anak selalu menjadi prioritas.
Jika kecemasan disertai penurunan berat badan, asupan yang sangat terbatas, nyeri, muntah berulang, atau kesulitan menelan, prioritaskan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Jangan biarkan waktu makan terus menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak. Mulailah dengan memahami perasaannya, mencari bantuan yang tepat, dan membangun pengalaman makan yang lebih aman serta positif bersama Rumah Hebat Surabaya.
WhatsApp Rumah Hebat: https://wa.me/6285123333708
Lokasi Google Maps Rumah Hebat Surabaya: https://maps.app.goo.gl/nZfeCZRh2GGXN6dA
